Langsung ke konten utama

Cerita Rakyat " Batu Menangis ( Kalimantan Barat ) "

NAMA  : RENI RAHMAWATI

NPM / SEMESTER : 198610230 / SEMESTER 5

DOSEN PENGAMPU : PAK. BHILLY NURHAKIM, ST. M.PD

 






JUDUL CERITA : BATU MENANGIS

DAERAH ASAL : KALIMANTAN BARAT

 

Sinopsis cerita rakyat “Batu Menangis”

Dahulu kala terdapat sebuah desa terpencil yang terletak di daerah Kalimantan Barat. Di dalam desa tersebut dikisahkan seorang janda hidup bersama anak gadisnya bernama Darmi. Dia adalah gadis desa yang cantik jelita tetapi dia mempunyai sifat yang buruk yaitu sifat pemalas dan manja.

Sifat malas dan manja itu dibawanya dari Sifat malas dan manja itu dibawanya dari kecil , karena sewaktu - sewaktu kecil Darmi selalu dimanjakan kedua orang tuanya dan permintaannya selalu terpenuhi. Sehinnga saat dewasa Darmi tidak mau membantu Ibunya bekerja di sawah karena ia berpikir bahwa yang seharusnya bekerja hanyalah Ibunya sedangkan Darmi hanya menikmati hasil jerih payah Ibunya.Tidak hanya itu Darmi adalah anak yang durhaka terhadap Ibunya. Dia tidak mau mengakui Ibu kandungnya sendiri.Dalam keseharian, Darmi tidak mau membantu Ibunya mencari nafkah kebiasaan dia hanya mempercantik diri dan memamerkan kecantikannya tersebut kepada warga kampung.

Pada suatu hari sang Ibu mengajak Darmi untuk ikut pergi ke pasar. Dan separti biasanya, Darmi selalu menyuruh Ibunya agar membelikannya alat-alat kecantikan. Tetapi karena sang Ibu tidak tahu alat kecantikan yang dimaksud, Ibu memaksa Darmi agar mau pergi ke pasar. Akhirnya dengan terpaksa, Darmi pun mau menemani Ibunya pergi ke pasar. Tetapi dengan satu syarat yaitu Ibunya harus berjalan di belakang Darmi, selayaknya sebagai pembantu dan tuan putri. Darmi malu dengan keadaan Ibunya sendiri sehingga ia tidak ingin berjalan bersampingan dengan Ibunya. Dengan berat hati sang Ibu pun menyetujui permintaan tersebut . Dengan berat hati sang Ibu pun menyetujui permintaan anaknya sendiri. Sesampainya di pasar kedua Ibu dan Anak itu pun sekejap manjadi pusat perhatian warga pasar. Tentu saja karena penampilan Ibu Darmi dan Darmi yang sangat berbeda, bukan seperti Ibu dan anak. Darmi yang cantik jelita mengenakan pakaian yang sangat bagus dan rapi bak seorang putrid,sedangkan Ibu yang sangat tua hanya mengenakan pakaian yang kotor, dan sangat kumul. Dalam perjalanan ada seseorang mendatangi Darmi dan bertanya kepadanya tentang orang sedang berjalan di belakang Darmi. Dengan angkuh Darmi mengaku bahwa orang yang berda di belakangnya adalah pembantunya. Dan lebih banyak pertanyaan mengenai Ibunya, Darmi pun merasa kesal.

Tetapi tiba-tiba Ibu Darmi berhenti dan memohon kepada Tuhan agar Darmi mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Ibu Darmi tak kuasa menahan penderitaan yang selama ini di alami Ibu Darmi. penderitaan yang selama ini di alami Ibu Darmi. Dalam sekejap

langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan turun deras. Tuhan telah mendengar doa san turun deras. Tuhan telah mendengar doa sang Ibu. Seketika badan Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun tak kuasa menahan air mata karena sesuatu terjadi terhadapnya. Sambil meneteskan air mata Darmi meminta maaf kepada Ibunya atas perbuatannya selama ini. Namun apa mau dikata semua telah terjadi.Seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Dan sampai sekarang batu tersebut dipercaya bias mengeluarkan air mata, sehingga batu tersebut diberi nama sehingga batu tersebut diberi nama “Batu Menangis”

 

Cerita Lengkap Batu Menangis

1. Hidup seorang janda dan putrinya yang tinggal di sebuah gubuk di ujung desa terpencil.


Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang janda tua dan putrinya yang cantik jelita bernama Darmi di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak Papa Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah karena sang Papa tidak meninggalkan harta warisan sedikitpun untuk memenuhi kehidupan Darmi dan Mamanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang Mama bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan. Sementara Darmi tumbuh menjadi seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, Darmi juga seorang gadis yang malas. Ia hanya berdandan dan mengagumi kecantikannya di depan cermin.

2. Setiap kali sang Mama mengajak bekerja ke sawah, Darmi selalu menolak


Setiap sore Darmi selalu berjalan-jalan di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, ia hanya memamerkan wajah cantiknya dan sama sekali tidak mau membantu sang Mama mencari uang di sawah.

Setiap kali Mamanya mengajak bekerja ke sawah, Darmi pun selalu menolak "Nak! Ayo bantu Mama bekerja di sawah," ajak sang Mama.

"Tidak mau! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur," jawab Darmi menolak.

"Apakah kamu tidak kasihan melihatku, Nak?" tanya sang Mama.

"Tidak! Mama saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajahmu yang sudah keriput itu," jawab Darmi dengan ketus.

3. Darmi memaksa sang Mama untuk memberikan uang upahnya dari bekerja di sawah



Mendegar jawaban Darmi, sang Mama tak bisa berkata-kata. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Namun Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus mendandani dirinya agar terlihat cantik.

Setelah sang Mama pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Mamanya untuk beli alat-alat kecantikan. "Mana uang upah itu?" seru Darmi kepada sang Mama.

"Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini," ujar sang Mama yang memohon.

"Tapi bedakku sudah habis. Aku harus beli yang baru!" kata Darmi.

"Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja," kata sang Mama yang kesal. Walaupun kesal dan marah, sang Mama tetap memberikan uang upahnya pada Darmi.

4. Darmi menuruti keinginan sang Mama untuk pergi ke pasar, namun dengan satu syarat 



ini pun terus terjadi hingga keesokan harinya. Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh sang Mama untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan ini selalu terjadi hampir setiap hari. Pada suatu hari, sang Mama hendak ke pasar, dan Darmi berpesan untuk dibelikan sebuah alat kecantikan. Namun, Mamanya tidak tahu alat kecantikan yang ia maksud. Kemudian Mamanya mengajak Darmi agar ikut ke pasar.

"Kalau begitu, ayo temani Mama ke pasar!" ajak sang Mama.

"Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Mama!" jawab Darmi yang menolak ajakan.

"Tapi, Mama tak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!" seru sang Mama.

Setelah didesak dan dengan perasaan terpaksa, Darmi bersedia menemani Mamanya ke pasar. Namun ia memberikan syarat.

"Aku mau ikut ke pasar, tapi dengan syarat Mama harus berjalan di belakangku," kata Darmi kepada sang Mama.

"Memang kenapa, Nak?” tanya Mamanya penasaran.

"Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Mama," jawab Darmi denga ketus.

"Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini orangtua kandungmu?" tanya sang Mama.

"Mama seharusnya berkaca. Lihat wajah itu yang sudah keriput dan pakaian yang sangat kotor itu! Aku malu punya orangtua yang berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan. Walaupun sedih, sang Mama pun menuruti permintaan putrinya.

5. Merekapun berjalan beriringan dengan Darmi yang berjalan di depan



Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan sang Mama mengikutinya dari berlakang sambil membawa keranjang.

Walaupun keduanya mereka adalah Mama dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah bukan dari keluarga yang sama. Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.

"Eh, Darmi! Mau ke mana kamu?" tanya temannya itu.

"Ke pasar" jawab Darmi dengan pelan.

"Lalu, siapakah orang di belakangmu itu? Apakah dia orangtuamu?" tanya lagi temannya sambil menunjuk Mamanya Darmi yang membawa keranjang.

"Tentu saja bukan Mamaku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.

Seperti disambar petir sang Mama mendengar ucapan putrinya. Namun ia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih.

Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak kemudian, mereka bertemu lagi dengan seseorang.

"Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.

"Ke pasar," jawab Darmi singkat.

"Siapa yang di belakangmu itu?" tanya lagi orang itu.

"Dia pembantuku," jawab Darmi yang mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Jawaban yang dilontarkan Darmi tentu membuat Mamanya semakin sedih dan sakit hati. Tetapi, sang Mama masih kuat untuk menahan rasa sedihnya.

6. Sang Mama berdoa pada Tuhan untuk menghukum anaknya yang durhaka



Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Mama berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

"Ma! Kenapa berhenti?!" tanya Darmi heran.

Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Mama tetap saja terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut Mamanya yang berbicara perlahan sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.

"Eh, Mama sedang apa?" tanya Darmi dengan nada membentak.

Sang Mama tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Namun ia berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka.

"Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!" ucap doa sang Mama.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga.

7. Perlahan, tubuh Darmi pun keras dan berubah menjadi batu



Hujan deras pun turun. Kemudian secara perlahan, kaki Darmi berubah keras dan menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

"Mama...! Mama... ! Apa yang terjadi dengan kakiku?" tanya Darmi sambil berteriak.

"Maafkan Darmi! Maafkan Darmi! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Ma!" seru Darmi semakin panik.

Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala.

Anak durhaka itu hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Mama masih melihat air menetes dari kedua mata putrinya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu.



Tak lama kemudian, cuaca kembali terang seperti semula. Namun seluruh tubuh Darmi telah berubah menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis.


Unsur-unsur Intrinsik cerita rakyat batu menangis

a. Tema : Tema pada cerita rakyat tersebut tersebut adalah kedurhakaan seorang anak kepada ibu kandungnya. Karena kesal dengan perilaku buruk anaknya,sang Ibu pun mengutuk anaknya menjadi batu.

b. Alur : Dalam cerita tersebut tersebut terdapat terdapat alur maju,karena maju,karena

menceritakan kehidupan sehari-hari Darmi dan Ibu Darmi.

c. Latar :

-Latar Tempat : Di rumah, di pasar, di desa

Pembuktian  :

 “. . .Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. .”

dirumah : “. . .Kemudian Ibunya mengajaknya ikut ke Pasar. . .”

 “Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat. . . .” =di desa

 -Latar Waktu : Setiap sore

Pembuktian  : “. . .Setiap . .Setiap sore ia sore ia selalu hilir mudik di Kampungnya tanpa tujuan yang jelas. . .”

- Latar Suasana : Suasana tegang

Pembuktian : “. . .Petir menyambar menyambar-nyambar dan suara Guntur bergemuruh memekakkan telinga. . .”

d. Tokoh

-Darmi : Angkuh dan sombong sombong

Pembuktian: “. . .Tidak, Bu aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur. . .” 

-Ibu Darmi : Sabar

Pembuktian: “. . . .Tapi ia hanya terdiamsambil menahan rasa Perih.”

e. Gaya Bahasa : Gaya bahasa yang dipakai adalah gaya Bahasa Yang mudah dipahami

Majas : Hiperbola Hiperbola

Pembuktian : “. . .Laksana di sambar petir orang tua itu .Mendengar ucapan putrinya.”

Majas : Litotes Litotes

Pembuktian : “. . .sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan. . .”

f. Sudut Pandang : Sudut pandang dalam cerita tersebut cerita tersebut adalah sudut pandang orang ke tiga, karena menceritakan perilaku dan kehidupan sehari-hari Darmi dan Ibu Darmi.

g. Amanat : Kita sebagai sebagai anak harus berbakti berbakti kepada Orang tua karena tanpa jasa orang tua kita tidak mungkin menjadi orang yang sukses, kita juga harus bisa membahagiakan orang tua dan jangan menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya terlebih kepada Ibu, karena doa Ibu selalu terkabulkan

 

2. Isi Dari Cerita Rakyat “Batu Menangis”

# Isi dari cerita tersebut adalah seorang gadis manja bernama bernama Darmi.

Dia adalah gadis yang cantik jelita. Tetapi dia anak yang angkuh dan sombong. Karena kecantikannya, dia tidak mau membantu Ibunya bekerja di sawah, kerjanya hanya

mempercantik diri. Darmi adlah anak yang durhaka kepada Ibu kandungnya, ia tidak mau mengakui Ibu kandungnya karena malu dengan kaadaan Ibunya. Karena sang malu dengan kaadaan Ibunya. Karena sang Ibu tak kuat Ibu tak kuasa menerima perlakuan buruk anaknya sang Ibu pun memohon kepada Tuhan agar diberi hukuman.

Dan ternyata doa Ibu terkabulkankan, sehingga berubah menjadi batu.

3. Nilai-nilai cerita rakyat :

a. Nilai Perilaku : Darmi memperlakukan memperlakukan Ibunya bukan Ibunya bukan sebagai sebagai Ibu kandung  melainkan melainkan sebagai sebagai pembantu.

Pembuktian : “. . .Tentu saja bukan Ibuku! Dia adalah pembantuku. . .”

b. Nilai Sosial : Perbandingan Perbandingan antara penampilan penampilan Ibu Darmi dan Darmi

Pembuktian : “. . .Meskipun kedua Ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. . 

c. Nilai Moral : Darmi tega meminta meminta uang kepada Ibunya tanpa menyadari keadaan ekonomi keluarganya.

Pembuktian : “ Setelah .Setelah Ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan. . .” 

4. Membandingkan Nilai

# Nilai social dahulu yaitu membandingkan penampilan antara Ibu dan anak sekarang sudah berkurang karena sekarang zaman modern, hampir semua orang sudah mempelajari dunia mode, dan mengerti cara berpenampilan era modern. Dahulu kala zaman belum berkembang mode, hanya sebagian saja yang sudah. Jadi perbardingan nilai-nilai dalam cerita yaitu nilai social.

 

Sekian dan  terima kasih .. 💓

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Pembelajaran : Aplikasi U - Dictionary

Mata Kuliah               : Bahasa Inggris SD Materi Pembelajaran : Aplikasi U - Dictionary Latar Belakang Seperti yang kita ketahui kita ada di jaman yang modern ini banyak perusahaan yang saling berlomba- lomba untuk menjadi aplikasi yang terbaik dan berguna untuk penggunanya.  Nah pada dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang aplikasi penerjemah offline yang saya presentasikan sebelumnya bersama kelompok saya yaitu aplikasi (U-Dictionary).  Akan saya bahas satu persatu tentang aplikasi U-Dictionary dibawah ini.                                                Versi IOS                                                            Versi Android Tampilan awal ...